Aku memandanginya di kejauhan, berjalan memunggungiku. Tidak menyadari kehadiranku sama sekali. Ya. Persis sama dengan perasaanku yang tidak pernah dibalas olehnya. Perasaan tulus yang bahkan tidak pernah sedikitpun disadari olehnya. Dia bersikap seakan semua baik-baik saja. Pertemanan ini tulus, hubungan ini tidak pernah melebihi batas ‘teman’. Sayangnya tidak, semua itu hanyalah kepura-puraan yang aku rencanakan. Semua hubungan pertemanan, kedekatan yang ada, hanyalah salah satu dari rencanaku untuk bisa mendekatinya. Untuk bisa menariknya. Namun, semua itu hanya sia-sia belaka. Karena sampai kapanpun aku tau bahwa lelaki di hadapanku ini tidak akan pernah membalas perasaanku.
Dia masih terus berjalan tanpa menoleh ke padaku sedikitpun. Terus berjalan menuju ke suatu tempat yang aku yakini akan lebih menyakitiku. Tidak, bukan ke suatu tempat, melainkan ke satu orang, satu gadis lebih tepatnya. Aku masih terus mengikutinya, memperhatikannya, memandanginya. Sosok lelaki ini... entah kenapa selalu bisa menenangkan perasaanku, meskipun aku tau tidak semestinya aku terus mengharapkannya. Tiga tahun merupakan waktu yang cukup lama bagiku untuk terus berharap dan menunggunya. Namun, sepertinya perasaanku berkata lain, tidak ingin mengakhiri semua ini, tidak ingin berhenti menyayanginya. Gila, ya memang, ini gila. Bagaimana tidak? Aku tau aku akan menjadi sangat sakit pada akhirnya, namun aku tetap tidak menghiraukan semua itu. Gila bukan?
Lalu tiba-tiba saja langkah lelaki dihadapanku ini terhenti. Dia berdiri cukup lama sambil memandang ke satu arah, satu orang, satu gadis lebih tepatnya. Gadisnya. Bukan, itu bukan aku. Gadis yang lain. Gadis yang selalu dicintainya sejak dua tahun lalu. Yang sudah mengisi hari-harinya selama ini. Yang selalu disayanginya.
Aku hanya bisa memandangnya nanar. Berusaha menahan diri. Ini sudah sering terjadi, namun hatiku masih bersikeras untuk menunggunya. Bodoh. Ya benar-benar bodoh. Harusnya aku mulai mengajari hatiku sendiri untuk bisa menghentikan semua perasaan ini. Menghapus semua memori tentang lelaki ini. Lelaki yang selalu ku dambakan. Cinta pertamaku.
Comments